Siapakah Wali-wali Alloh itu ?
بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokaatuh
Di dalam Al Qur'an ada ayat yang menginformasikan bahwa di sepanjang perjalanan kehidupan manusia akan ada kemunculan sosok manusia yang disebut sebagai Wali Alloh dan dikisahkan pula bahwa Rosululloh Saw. pernah memperbincangkan hal tersebut dengan beberapa sahabatnya dan tercatat pada beberapa hadits.
Tapi seperti biasanya, informasi2 tersebut tidak bisa disimpulkan secara meyakinkan sosok manusia seperti bagaimana Wali Alloh tersebut.
Karena itu wajar jika ada klaim2 si ini adalah seorang wali Alloh, si itu adalah seorang wali Alloh bahkan ada orang kurang sehat mental dianggap wali Alloh, padahal orang seperti apa yang dimaksud wali Alloh pun belum dapat dipahami dengan meyakinkan
Sedikit informasi dari Al Qur'an surat Yunus : 62 - 64 adalah sebagai berikut :
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 10:62)
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. 10:63)
Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan (dalam kehidupan)
di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Alloh. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. 10:64)
Tafsir ibnu Katsir
Alloh memberi kabar, bahwa wali-wali-Nya adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana Alloh menjelaskan keadaan mereka kepada diri mereka, maka barang siapa yang bertakwa, jadilah dia wali Alloh, maka, "Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. " maksudnya dalam menghadapi ketakutan dan kengerian di akhirat. "Dan
tidak (pula) mereka bersedih hati. " Yaitu, atas sesuatu yang di belakang mereka di dunia.
'Abdullah bin Mas'ud, 'Abdullah bin 'Abbas dan sebagian ulama salaf berkata:
" Wali Alloh adalah orang-orang yang selalu mengingat Alloh."
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abu Malik al-Asy'ari, ia berkata, Rasulullah Saw, bersabda: "Akan datang suatu kaum dari (antara) manusia-manusia dan suku-suku, di antara kaum itu belum pemah tersambung tali persaudaraan, mereka saling mencintai karena Alloh dan berjuang (bersama-sama) karena Alloh.
Pada hari Kiamat, Alloh menyediakan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya, kemudian Alloh menyuruh mereka duduk di atasnya, pada saat orang-orang dalam keadaan ketakutan, mereka tidak dalam ketakutan, mereka adalah wali wali Alloh yang tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka tidak pula bersedih. " (Hadits ini adalah potongan dari hadits yang panjang).
Hadits mengenai wali - wali Alloh
Telah menceritakan kepada kami [Zuhair bin Harb] dan [Utsman bin Abu Syaibah] merekaberkata; telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari ['Umarah bin Al Qa'qa'] dari [Abu Zur'ah bin 'Amru bin Jarir] bahwa [Umar bin Al Khathab] berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Alloh terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Alloh Ta'ala." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Alloh tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Alloh, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orangmerasa bersedih." Dan beliau membaca ayat ini: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah ṣallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Alloh Ta’ālā berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumandangkan perang dengannya. Tidaklah hamba–Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal–hal yang telah Aku wajibkan baginya. Hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan–amalan nāfilah (sunah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menggapai dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya’.” (H.R. al-Bukhari).
Menurut Pendapat Ulama :
Wali Alloh adalah setiap orang yang beriman, bertakwa, serta istikamah menjalankan ketaatan kepada Alloh SWT.
Definisi Wali Alloh adalah Iman dan Takwa: Merujuk pada Al-Qur'an Surah Yunus ayat 62–63, para ulama menegaskan bahwa syarat utama seorang menjadi wali Alloh adalah iman yang benar dan ketakwaan, bukan harus memiliki kesaktian khusus seperti bisa terbang atau kebal.
Menurut Ibnu Taimiyah dan Syaikh Abdurrahman as-Sa'di, setiap orang yang beriman dan bertakwa adalah wali Alloh.
Menurut Imam Syafi'i, jika para ahli fikih (fuqaha) yang mengamalkan ilmunya tidak disebut sebagai wali Alloh, maka Alloh tidak memiliki wali.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata wali memiliki beberapa arti :
Arti Kata Wali Pengasuh/Pelindung: Orang yang menurut hukum (agama atau adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim dan hartanya sebelum anak tersebut dewasa.
Penjamin: Orang yang menjadi penjamin dalam pengurusan serta pengasuhan anak.
Wali Nikah: Pengasuh atau orang berwenang yang bertindak sebagai wakil pengantin perempuan pada waktu akad nikah.
Dengan diinformasikannya Wali Alloh di dalam Al Qur'an tentunya ada manfaat bagi kita-kita yang bukan wali Alloh, karena itu jika yang disebut Wali Alloh itu setiap orang yang beriman dan bertaqwa saja maka kita tidak mendapatkan manfaat apa-apa karena, itu sudah menjadi keharusan semua umat Islam dan contohnya jelas Rosululloh Saw, dan panduannya Al Qur'an dan Hadits
Ada dua hal yang harus menjadi perhatian kita sebagai umat Islam terhadap wali Alloh yaitu mengambil manfaatnya dan tidak memusuhi atau mengganggunya sebagai mana firman Alloh Swt dalam hadits kudsi tadi.
Untuk kedua hal tersebut maka kita harus bisa mengenali wali Alloh tersebut dengan cermat, karena itu sebelumnya kita harus memahami dahulu orang seperti apa atau apa definisi wali Alloh tersebut.
Mendefinisikan kata wali sepertinya bisa merujuk pada kata wali yang sama-sama disebutkan dalam Al Qur'an pada ayat yang lain, kita perhatikan penggalan ayat berikut:
............. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). .......................( QS Al Baqarah : 282)
Dengan merujuk pada kalimat penggalan ayat tersebut bisa mendefinisikan bahwa kata Wali adalah orang yang menjadi perwakilan dari suatu pihak dengan memikul tanggung jawab dan amanahnya kepada pihak lain, barangkali seperti itu.
Maka Wali Alloh adalah orang yang menjadi perwakilan Alloh yang memikul tanggung jawab dan amanahnya untuk/kepada manusia.
Jika definisi ini benar maka penafsiran yang mendekati adalah penafsiran Imam Syafi'i
Menurut Imam Syafi'i, jika para ahli fikih (fuqaha) yang mengamalkan ilmunya tidak disebut sebagai wali Alloh, maka Alloh tidak memiliki wali.
Hanya saja dengan pernyataan ini seolah-olah Alloh mengutus wali hanya untuk urusan ilmu fiqih saja, padahal kuasa Alloh terhadap kehidupan mahluknya meliputi seluruh aspek kehidupan, maka sangat dimungkinka wali-wali Alloh itu ada untuk segala macam urusan dan dibawa amanahNya oleh wali-wali tersebut berupa ilmu dan kemampuan luar biasa, sedangkan ruh para wali Alloh tersebut sudah dibekali dengan rasa saling mencintai, iman dan taqwa sehingga mereka adalah orang2 yang tidak perlu dikhawatirkan, bahkan iman dan taqwanya pun tidak perlu kita khawatirkan, artinya kita tidak perlu ikut menilai iman dan taqwanya sang wali karena sangat dimungkinkan penilaian kita dengan Alloh berbeda mengenai standard minimal iman dan taqwa, kita bisa salah paham Alloh tidak akan, atau mungkin juga diantara mereka orang yang Alloh taqdirkan tidak beragama Islam, misalnya tidak pernah tahu ada ajaran Islam, dll .
Barangkali ciri spesipik wali Alloh adalah menyampaikan ilmu yang baru diketahui manusia atau memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membantu umat manusia dari kesulitan atau memudahkan kehidupan manusia atas dasar cinta kasih dunia akhirat ( bukan kemampuan dengan bantuan jin ).
Jadi, ahli fiqih yang pertama mengungkapkan kesimpulan pemahaman yang benar atau yang mengoreksi kesalah pahaman fiqih menjadi pemahaman yang benar, merekalah wali-wali Alloh, kita perhatikan hadits berikut :
Para imam madzhab adalah termasuk mujaddid, mereka utusan Alloh, wali Alloh, akan tetapi dengan diisyaratkan utusan Alloh itu akan ada setiap seratus tahun, itu artinya setiap mujaddid tidak memperbaiki seluruh kesalahan yang ada di setiap masanya, makanya kita harus tetap memilih fatwa2 mana yang benar dari setiap mujaddid tersebut di setiap generasinya, jangan beranggapan pemahaman ulama salaf pasti lebih benar
Selain dari pada itu ada juga wali-wali Alloh untuk ilmu lainnya misalnya dalam hal menyampaikan ilmu listrik, ada Michael Faraday, Alessandro Volta, Thomas Alva Edison, Tesla dll, mereka berjuang untuk mempermudah kehidupan manusia. Ada pula wali Alloh yang menyampaikan ilmu gelombang elektromagnetik, Ada pula wali Alloh yang menyampaikan ilmu tubuh manusia, dll. merekalah yang akan mendapatkan pahala jariyah yang barangkali inilah yang membuat para Nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat. Adapun iman dan taqwanya tidak perlu dikhawatirkan karena mereka sudah dijamin tidak bersedih hati di dunia dan di akhirat dan kalau ada yang memusuhi, menghina, melecehkan mereka maka Alloh mengumandangkan perang dengannya. Nah, sekarang bagaimana jika Syeh Muhammad Nashiruddin Al Albani itu salah seorang Mujaddid atau Wali Alloh ?, bagaimana dengan orang yang berniat merendahkannya ?? Wallohu'alam,
Silakan kaji ulang, pikir ulang dan diskusikan, jangan taqlid kepada saya, karena saya bukan orang yang pantas ditaqlidi oleh siapapun, karena saya bukan ustadz, bukan kyai dan bukan Ulama, tapi mungkin saya U baru yang belajar islam dengan gaya bebas.
semoga bermanfaat,
wassalamu alaikum warohmatullohi wabarokaatuh