Dalam
beberapa blog dimuat sebuah kisah yang menggiring kepada pemahaman bahwa
membaca Al Qur’an walaupun tidak mengerti apa yang dibacanya tetap bermanfaat
dan berpahala.
Kisah
tersebut maksudnya menganalogikan bahwa membaca Al Qur’an walaupun tidak
mengerti apa yang dibacanya tetap bermanfaat dan berpahala, seperti seorang
cucu yang disuruh kakeknya mengambil air dengan sebuah ember yang bolong-bolong dan kotor, walaupun
diupayakan dengan berlari kencang tetap air tidak didapatkan karena bocor dan
habis di jalan. Yang akhirnya sikakek menasihati cucunya dengan mengatakan
bahwa walaupun tidak mendapatkan air tapi usaha si cucu tidak sia-sia karena
ember yang tadinya kotor menjadi bersih, dan itulah ibaratnya membaca Al Qur'an
dengan tidak tahu artinya.
Selain dari
pada itu, pemahaman tersebut juga dilengkapi dengan keterangan-keterangan berikut:
Dari
Abu Umamah Al-Bahili berkata, saya telah mendengar Rasulullah bersabda,
"Bacalah Al-Qur`an!, maka sesungguhnya ia akan datang pada Hari Kiamat
sebagai syafaat bagi ahlinya (HR Muslim)
Dari
`Aisyah Radhiyallahu `Anha berkata, Rasulullah bersabda, "Orang yang
membaca Al-Qur`an dan ia mahir dalam membacanya maka ia akan dikumpulkan
bersama para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca
Al-Qur`an dan ia masih terbata-bata dan merasa berat (belum fasih) dalam
membacanya, maka ia akan mendapat dua ganjaran." (HR Bukhari Muslim)
“Dari
Abdullah Bin Mas’ud Ra. beliau berkata : Rasullah SAW bersabda: Barang siapa
membaca satu huruf dari Al Qur’an maka ia dapat 1 pahala dan pahala itu akan
digandakan 10 kali lipat, saya tidak mengatakan “ Alif Lam Mim “ itu satu
huruf, tetapi Alif satu huruf dan Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (H.R.
Turmudzi)
Dijelaskan
bahwa dalam keterangan-keterangan tersebut tidak nampak penekanan harus
mengerti artinya , maka membacanya saja walaupun tidak mengerti artinya tetap bermanfaat dan berpahala.
Banyak komentar pembaca membenarkannya.
Mari kita
bandingkan pemahamannya dengan paparan berikut.
Perlu
dipahami bahwa sabda-sabda Rosululloh Saw. tersebut ditujukan kepada sahabat
yang sangat paham dengan bahasa Al Qur'an, jadi ketika sahabat disuruh membaca
Al Qur'an dengan tartil ( perintah Alloh SWT ) maka sahabat akan mengerti apa
yang dibacanya, maka jelas perintah, petunjuk, pelajaran dll, dari Al Qur'an akan terlintas di
benaknya sekalipun bacanya terbata-bata.
Dengan
disuruhnya ummat untuk membaca Al Qur'an sudah tentu tujuannya agar umat menjadi pintar, maka jelas tidak ada maksud anjuran Rosululloh Saw. membaca Al
Qur'an per huruf tanpa makna, misalnya membaca “ Alif Lam Mim “, “ Alif Lam Mim .....“, Jika ummat
berlaku demikian maka ia tidak akan menjadi ummat yang pintar.
Maka, pemahaman
penulis maksud dari balasan Alloh yang dihitung
tiap huruf jika baca Al Qur'an itu ada batas minimalnya, yaitu apabila ummat membaca Al Qur'an minimal menangkap sebuah pesan
petunjuk, atau pelajaran, atau perintah dll, baru akan mendapat balasan yang dihitung
per huruf. Wallohu'alam.
Kisah sang
cucu yang mengambil air dengan ember bolong-bolong itu sebenarnya menganalogikan
seorang ummat yang melakukan amalan bid'ah, tujuannya mengambil air,
caranya seperti petunjuk yang benar yaitu menggunakan ember, tapi embernya
model baru yaitu bolong-bolong, maka tujuan utamanya seumur-umur tidak akan
tercapai, hancurlah amalannya dan hanya mendapatkan manfaat yang jauh dari tujuan.
Hadits dari Abu Bakar
Shiddiq ra. Ia berkata:
Rosul bersabda bahwa
iblis berkata,” Aku membinasakan manusia dengan dosa, mereka membinasakanku
dengan istighfar. Ketika aku melihat hal itu, aku binasakan mereka dengan
keinginan melakukan pekerjaan bid’ah, agar mereka
mengira mereka mendapat petunjuk yang benar, maka akibatnya mereka tidak
memohon ampunan kepada Alloh”. ( HR Ibnu Abi Ashim ).
Petunjuk yang
benar adalah senantiasa mengharapkan ampunan Alloh Swt.
Wallohu'alam
Semoga bermanfaat.