Translate

Friday, 30 April 2010

Phobia terhadap nasi

Sejak kurang lebih umur 2,5 tahun anakku laki-laki mulai tidak suka makan nasi, padahal sebelumnya biasa makan nasi dan normal, tidak tahu asal muasalnya kenapa menjadi tidak suka makan nasi, namun yang jelas anak saya tersebut sehari-harinya lebih banyak bersama pengasuh.

Memang di masa-masa sebelumnya walaupun anak saya tersebut dikasih makan nasi, tapi ibunya selalu menyediakan bubur susu nestle sebagai selingan, mungkin disinilah awal kesalahannya, memang bisa saja karena sianak bisa membandingkan rasa, dan mungkin rasa bubur nestle dirasakannya lebih enak dari pada makan nasi dan akhirnya lebih selalu memilih minta dikasih bubur nestle .

Akan tetapi dugaan tersebut masih diragukan, karena jika memang tidak suka makan nasi tidak mesti kemudian menjadi jijik dengan nasi, akan tetapi kenyataannya anak saya tersebut sampai-sampai tidak berani menyentuh nasi dan nampaknya ia jijik jika bersentuhan dengan nasi.

Kemudian yang saya ketahui ketika anak saya tersebut mulai tidak suka makan nasi, pengasuh anak saya tersebut jika ngobrol-ngobrol dengan tetangga atau siapapun yang diajaknya ngobrol ia selalu membicarakan dengan bangganya bahwa anak saya itu tidak suka makan nasi, dan makannya bubur nestle.

Adapun ketika anak sudah mulai agak besar dan sudah tidak pantas lagi makan bubur, maka sebagai makanan sehari-hari kami kasih ia roti, bubur ayam, kupat tahu, mie baso atau mie bungkus, biscuit, susu dan lain-lain yang kira-kira mengenyangkan dan vitamin, sebagai efeknya dari tidak suka makan nasi maka ia pun jadi tidak suka makan daging, lkan, sayur, hanya telur sebagai campuran mie rebus, cukup merepotkan dan menghawatirkan .

Akan tetapi selama itu pula saya tidak pernah putus asa untuk terus berusaha merubah keadaan anak saya tersebut agar kembali suka makan nasi. Banyak trik dan cara yang saya lakukan dalam upaya merubah keadaan tersebut.

Cara yang paling gampang yang mungkin akan dilakukan oleh siapapun pada kondisi seperti itu adalah dengan cara mengomeli, memarahi dan membentak kemudian memaksanya untuk mengunyah nasi , itupun saya lakukan, akan tetapi anak pun hanya ngamuk meronta dan menutup mulutnya rapat-rapat .

Saya bertemu anak dua hari dalam seminggu, sabtu dan minggu , namun dalam dua hari tersebut saya selalu ngobrol dengan anak, bercerita, mengajarkan atau menerangkan apa saja secara spontan apa yang terjadi di sekitar kami, apa yang teringat untuk diterangkan, apa yang terlihat dan sebagainya, dan anak saya selalu mendengarkan dan memperhatikannya, sehingga pada kesempatan seperti itu sering kali saya belokkan cerita atau obrolan itu untuk menerangkan pentingnya makanan bagi tubuh, tentunya dengan ilustrasi yang gampang dimengerti anak, misalnya ketika mendengar ribut suara tikus di dapur, lalu saya tanya anak ” tikus sedang apa ya ribut begitu ? “ anak bilang nggak tahu, kemudian saya terangkan kalau tikus itu sedang mencari makan biar kenyang, sebab kalau tidak makan tikus akan sakit dan kemudian mati, sama , manusia juga begitu, jadi dede harus makan yang kenyang, biar makannya kenyang maka harus makan nasi . Sering sekali saya bicara seperti itu .

Pada suatu ketika terpikir oleh saya untuk mencoba merubah keadaan tersebut secara perlahan, langkah pertama waktu itu saya berusaha agar si anak mencoba untuk meraba-raba nasi, tapi sebelumnya saya terangkan sambil bercanda bahwa nasi itu tidak jijik, buktinya banyak orang makan nasi, yang jijik itu ee ayam, saya bilang mau nggak makan ee ayam ?, anak ketawa dan mau mencoba meraba-raba nasi, tapi itupun sambil saya pegang tangannya dan saya paksakan meraba nasi sambil ia teriak-teriak dan kami tertawa-tawa, beberapa kali kami lakukan itu.

Kemudian langkah kedua saya berusaha mencoba merayu agar anak mau mencoba untuk makan nasi, hari sabtu sore saya dan anak main, berkelakar, bercerita, ujung-ujungnya saya menerangkan pentingnya makan nasi, lauk,sayur dll. Ketika itu saya ajak anak untuk berjanji agar besoknya, hari minggu mau mencoba untuk makan nasi walaupun sedikit, katanya siap tapi sedikit sekali, katanya seujung jari, ya kami setuju .

Keesokan harinya saya tagih janjinya, lalu dipersiapkan makan sambil main di depan rumah. Saya persipkan makanannya sesuai permintaannya yaitu telur ayam dadar terutama, dan yang lainnya. Dengan bismillah saya mulai menyuapi se ujung jari, am masuk sesuap kecil kemudian dikunyah-kunyah, tapi tidak lama kemudian ia kelihatan mau muntah, matanya merah dan keluar air mata, ia ingin memaksakan tapi kelihatannya tidak kuat, lalu ia muntahkan nasi itu. Kemudian dicoba sekali lagi, tapi ia minta lebih sedikit lagi nasinya dan telurnya dadarnya yang banyak, am lagi sesuap lebih kecil, kunyah-kunyah , sama masih mau muntah-muntah dengan keluar air mata, tapi kali itu buru-buru ia telan dan buru-buru ia minta minum, bisa satu suap dimakan tapi tidak pernah mau lagi.

Setelah rentang waktu yang agak lama sejak percobaan makan nasi waktu itu, terpikir ide baru untuk mencoba lagi makan nasi. Seperti biasa cerita dulu, bercanda, dan mengingatkan pentingnya makan nasi, lauk dan sayur. Kebetulan waktu itu ia baru bisa naik sepeda roda dua kecil dan ia lagi suka-sukanya naik sepeda, kemudian saya tawarkan untuk mencoba makan nasi goreng kecap,telur dan campur-campur sambil naik sepeda di lapangan halaman mesjid, ia setuju. Lalu semua dipersiapkan. Dan berangkatlah dengan membawa sepeda dan sepiring nasi goreng kecap .

Sesampainya di halaman mesjid ia besiap-siap naik sepeda, lalu dengan bismillah sesendok nasi goreng disuapkan ke mulutnya, lalu ia kunyah-kunyah dan masih tetap mau muntah, padahal sudah diterangkan sebelumnya bahwa nasi goreng itu sudah bukan nasi biasa, karena dari warnanya, baunya dan rasanya sudah berbeda dari nasi putih, tapi tetap saja mau muntah, akan tetapi ketika mau munta-muntah tersebut buru-buru saya suruh ia untuk mengayuh sepedanya, maka iapun sibuk mengendalikan sepedanya sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya, bahkan secara tidak sadar iapun menelannya tanpa hambatan. Ketika kelihatan nasi di mulutnya sudah habis maka saya panggil ia untuk disuapi lagi dengan dalih isi bensin karena bensinnya sudah habis, sesuap lagi dan buru-buru saya suruh mengayuh lagi, lalu terus begitu hingga Alhamdulillah nasi goreng sepiring kecil habis.

Saya kira setelah itu berikutnya akan mudah untuk memberinya makan nasi goreng, tapi ternyata tidak, hanya waktu-waktu tertentu saja, plus harus merayu, mengomel dan macam-macam upaya agar ia mau makan nasi goreng, belum nasi putih.

Mungkin sudah lewat waktu setahun lebih sejak makan nasi sambil bersepeda tersebut, yang makin lama sejak itu makin jarang dan hampir tidak makan lagi, anak saya selesai dari TK dan mau masuk SD, saat sedang jalan –jalan di supermarket anak saya teringat ingin beli kantong sekolah bergambar naruto, saya bilang jangan, karena kantong itu mahal, harganya sama dengan 15 mangkuk mie baso di toko anu, saya bilang begitu , lalu diam dan jalan lagi, lama-lama ngamuk tetap ingin beli, setelah agak lama ngamuk lalu saya tawarkan boleh beli asal makan nasi, lalu diam. Beberapa saat ngamuk lagi tapi tidak menjawab kesanggupannya makan nasi, saya tetap boleh tapi makan nasi, kayaknya ia nekat dan sanggup makan nasi dan beli kantong Naruto.

Sampai di rumah saya tagih janjinya, ia siap, saya tanya makannya sama apa ?, ia jawab nasi goreng dulu nanti nasi putih, setuju, lalu disiapkan. Ketika am sesuap nasi goreng kembali kelihatan mau muntah, tapi buru-buru saya ajak ia main kartu remi yang biasa saya pakai untuk mengajarinya penjumlahan bilangan, saya suruh ia menghitung angka dan jumlah gambarnya hingga habis sepiring nasi goreng. Besoknya mulai dengan makan nasi putih tapi tetap harus sambil berusaha mengalihkan konsentrasinya kepada kegiatan lain sehingga ia tidak sempat memikirkan bahwa yang dikunyahnya itu adalah nasi.

Alhamdulillah sudah hampir 2 tahun makan nasi, dan sekarang kelas 2 SD hampir tiap pagi sarapannya nasi walaupun tidak senormal anak yang biasa makan nasi.

Jika tidak diusahakan saya tidak yakin anak saya akan tiba-tiba suka makan nasi, wallohu ‘alam, sebab ada orang lain yang juga tidak suka makan nasi hingga usia remaja.

Jika ada yang senasib, maka berusahalah dengan sabar dan tidak menyerah. Okey !!

5 comments:

E.Sutrisna.tsm esutrisna65@gmail.com said...

Untuk urusan bujuk-membujuk pada orang dewasa memang sulit tapi harus memberikan kesadaran yg mungkin bisa merubah pendirian untuk berani mencoba makan nasi, atau paling tidak mengakrabi nasi terlebih dahulu. Mengenai kebiasaan makan mie instan, saya pernah ktmu seorang perempuan +- umur 30 thn ia menderita penurunan Trombosit yang parah, sehingga setiap bulan ia harus pergi ke Bandung untuk menaikkan trombosit tsb. Kata dokter karena kontaminasi kimia makanan. dan memang sejak kecil ia tiap hari makan mie instan, makan nasi sekali dalam tiap harinya.

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

syifa shahab said...

Adik saya sudah umur 18thn tidak pernah makan nasi. 😁😂

syifa shahab said...

Adik saya sudah umur 18thn tidak pernah makan nasi. 😁😂

syifa shahab said...

Adik saya sudah umur 18thn tidak pernah makan nasi. 😁😂